Program Konservasi Mangrove PT. Inalum Agar Tidak Berhenti
— Oleh—
Aidi Yursal
Wartawan Utama Dewan Pers
Wartawan Anggota Biasa PWI Sumut

Tak salah kalau disebut bahwa Kabupaten Batu Bara yang pemekaran dari Kabupaten Asahan 19 tahun lalu, (15 Juni 2007) kini punya nama besar, karena Perusahaan peleburan aluminium terbesar Indonesia, PT INALUM di Kuala Tanjung, ikut menjadi bagian dari daerah kabupaten yang tergolong baru di Provinsi sumatera Utara.
Dengan masuknya PT.INALUM dalam wilayah Batu Bara, jelas sangat menguntungkan bagi masyarakat setempat, terutama bagi pemerintah yang sampai sekarang tercatat sudah beberapa kali ganti Bupati dan Wakil hasil pemilihan Bupati dan Wakil Bupati.
Dari sekian banyak keberuntungan yang diraih Pemkab Batu Bara bersama lapisan anggota masyarakat pasca pemekaran, salah satunya adalah keikutsertaan langsung pihak PT.INALUM dalam melaksanakan Program Konservasi Mangrove di Pantai Sejarah, kini sudah berubah nama Pantai Batu Bara Mangrove Park.
Sebenarnya jauh sebelum Batu Bara pisah dengan Kabupaten Asahan tahun 2007, warga setempat yang berada di daerah pesisir yang rawan bencana akibat gelombang laut dahsyat sudah sejak tahun 2002 melibatkan diri untuk mengadakan pengembangan dan perlindungan hutan mangrove dari jenis Bakau dan kayu api-api tanpa kecuali kayu Laut, karena ketiga jenis pohon ini sudah teruji sejak dulu dengan berbagai kelebihan luar biasa.
Mangrove dengan tiga jenis turunan itu berfungsi untuk dijadikan sebagai benteng alami di kawasan pesisir atau pinggir laut. Khusus untuk Bakau, salah satu dari turunan Mangrove punya akar banyak dan kuat yang mampu menahan hantaman gelombang laut, tanpa kecuali — dengan mangrove ukuran besar– untuk gelombang tsunami seperti yang pernah menghantam kawasan pesisir pantai Aceh dan lainnya tahun 2004 dengan banyak korban jiwa dan tak sedikit kerugian harta benda. Begitupun, keberadaan pohon bakau boleh disebut sudah terbilang langka dan tidak lagi banyak ditemukan di daerah pesisir atau pinggir pantai di berbagai wilayah di Indonesia.
Ketekunan sosok warga Batu Bara yang juga bermukim di dekat kawasan pantai bernama Azizi sebenarnya sangat pantas diberi acungan jempol jika kita belum bisa memberi penghargaan berbentuk material dan lainnya. Kenapa? Karena begitu besar jasa sosial Pak Azizi ini bersama para anggota dalam pengembangan mangrove, khusus jenis bakau di daerah pesisir Batu Bara, khusus untuk Pantai Sejarah.
Keterlibatan dan ketekunan Pak Azizi bersama beberapa orang anggotanya dalam pengembangan mangrove dari jenis bakau adalah jauh sebelum Batu Bara menjadi Kabupaten dengan pisah dari Kabupaten Asahan. Cara kerja pak Azizi pun tidak lagi secara orang per orang tetapi sudah dihimpun dalam satu kelompok bernama Kelompok Tani Cinta Mangrove. Karena jelas sasaran yang dituju dalam gerakan pengembangan bakau di pinggir laut, jumlah anggota kelompok yang tadinya, menurut Azizi, hanya beberapa orang namun semakin hari dan tahun sudah bertambah dan kini terbilang banyak masuk Kelompok Tani Cinta Mangrove dengan tetap Pak Azizi sebagai ketua.
Sudah tak bisa dimungkiri bahwa Jika dulunya pada awal dimulainya pelaksanaan pengembangan Mangrove di Pantai Sejarah, Desa Perupuk, Kecamatan Ilma Puluh Pesisir oleh kelompok Pencinta Mangrove sampai pada pemekaran Kabupaten Batu Bara dari Kabupaten Asahan, Kecamatan Lima Puluh Pesisir, perhatian pemerintah daerah kabupaten belum begitu besar dalam mendukung gerakan pengembangan Mangrove yang berfungsi ganda dalam mencegah berbagai kerusakan dan bahkan sebagai benteng atau pagar laut agar bisa membendung daaratan dari hantaman dahsyat gelombong laut.
Agak sulitnya mendapatkan bantuan dari Pemkab Asahan juga sebagai pengakuan dari Pak Azizi dari Ketua KTCM, yang kini berusia 59 tahun sejak tahun 2002 mulai mengabdikan diri untuk pengembangan mangrove di Pantai Sejarah, Desa Perupuk, Kecamatan Lima Puluh Pesisir, Batu Bara.
Alasan itu pula, maka pengembangan hutan mangrove bersama perbaikan Pantai Sejarah menjadi objek wisata berlangsung lamban. Dan baru setelah Batu Bara menjadi Kabupaten dengan pisah dari Kabupaten Asahan, pergerakan berbagai kelompok peduli Mangrove termasuk Kelompok Tani Cinta mangrove di bawah pimpinan Pak Azizi mulai makin meningkat dengan bisa tertawa lepas karena masalah menyangkut pengembangan mangrove sudah bisa dimohon ke Pemkab Batu Bara yang berkantor di kota Lima Puluh.
Pasca Batu Bara menjadi kabupaten, apa yang diperkirakan pria seperti Pak Azizi tidak meleset. Permohonan bantuan dana atau pengajuan rencana pengembangan Pantai Sejarah dan Pengembangan Mangrove untuk jenis Bakau yang terbilang nyaris punah, semakin lancar . Kantor Bupati atau Dinas yang akan didatangi selain dekat tetapi juga pria seperti Pak Azizi bersama anggotanya bisa berkomunikasi langsung dengan pejabat pembuat keputusan di Pemkab Batu Bara itu.
Dan, apa yang diharapkan dan yang ada dibenak sosok pria Pak Azizi terbukti, karena pembangunan Jembatan Kayu sepanjang 200 meter tahun 2019, dananya adalah dari Pemkab Batu Bara yang dikombinasikan dana bantuan pihak lain yang tidak mengikat. Pembangunan awal secara bertahap, baru fokus pada Jembatan Kayu lurus menjurus ke tepi laut dan belum ada terlihat berjejer tumbuh tanaman mangrove jenis bakau dan api api. Artinya masih kosong melompong, dan yang terlihat hanya tanah pantai tanpa air laut waktu pagi, dan luapan air laut jika sudah memasuki sore sampai malam.
Memang luar biasa sejak awal pembangunan Jembatan Kayu Pantai Sejarah karena dirancang begitu unik dengan bahan serba kayu dengan ketinggian 2 meter melintas di atas permukaan laut. Pengunjung yang hendak melihat suasana laut dengan beberapa perahu nelayan melintas yang dilihat dari kejahuan, bisa berjalan kaki — tak boleh pakai kendaraan jenis motor– menuju ujung Jembatan Kayu karena tersedia tempat khusus untuk menatap permukaan laut.
Yang mengasyikkan lagi bahwa jembatan kayu tidak goyang walau dilewati oleh banyak pengunjung. Dan sampai sekarang belum terbetik berita kalau jembatan kayu ini sempat ambruk dan memakan korban dari kalangan pengunjung. Malah dari informasi yang didapat, bahwa Jembatan Kayu itu menggunakan kayu keras yang sebagian diambil dari kayu laut, salah jenis Mangrove yang punya ketahanan sangat kuat dibanding dengan jenis Bakau dan Kayu Api-Api.
Empat tahun kemudian setelah selesai pembuatan awal dari jembatan kayu, PT. INALUM mulai ikut langsung dalam pengembangan pohon mangrove. Keterlibatan PT.INALUM sekitar antara tahun 2020 dan 2023 sudah dikuatkan melalui pelaksanaan Program Konservasi Mangrove di daerah pesisir Batu Bara dengan Pantai Sejarah sebagai pusat kegiatan program .
Keterlibatan langsung pihak PT.INALUM pada tahun 2020 atau 2023, atau satu atau empat tahun sejak Jembatan Kayu selesai dibangun, tahun 2019, disambut baik oleh berbagai pihak. Selain oleh Pemkab Batu Bara, tetapi tak kalah menarik dan bergembira adalah dari Kelompok pencinta dan peduli Mangrove, terutama datang dari Kelompok Tani Cinta Mangrove yang diketuai Pak Azizi.
Begitupun sebaliknya, banyak juga pihak yang menyebut keikutsertaan langsung PT.INALUM tahun 2020 atau 2023 dalam pengembangan mangrove di pesisir Pantai Batu Bara sepertinya agak terlambat kalau dibandingkan dengan mulai berdirinya PT.INALUM tahun 1976. Pihak yang melancarkan protes langsung atau terselubung juga nampak belum atau kurang memahami tentang status dan kondisi perusahaan PT.INALUM waktu itu, karena kesemua itu pihak INALUM sendiri yang tahu, kenapa.
Suara-suara sumbang itu seperti sampai ke telinga Pak Azizi, Ketua BTCM Batu Bara. Dia membantah keras kalau PT.INALUM bagaikan terlmbat penggabungkan diri dengan Pengembangan Mangrove, karena sejak tahun 2015 PT.INALUM sudah menyalurkan sumbangan atau bantuan dana dan lainnya kepada Kelompok Tani Cinta Mangrove namun belum lagi dalam bentuk program atau bantuan yang disertai arahan tertulis. Karena menurut Pak Azizi, dana bantuan sebelum dicairkan atau disetujui pihak PT.INALUM mesti dilakukan dengan berbagai kajian dan pertimbangan ketat. Kebijakan PT.Inalum dalam menyerahkan bantuan dana kepada Ketua BTCM itu setelah menyaksikan penggunaan dana sebelumnya, apa memang digunakan sesuai dengan rencana atau tidak .
Karena penyaluran dana sesuai dengan rencana penggunaan, makanya berulangkali Pak Aziz mengajukan permohonan dana ke pihak PT. INALUM hampir tak pernah satupun ditolak. Makanya sejak dari tahun 2015 itu sampai detik ini, menurut Pak Azizi, sudah boleh disebut sebagai orang kepercayaan dari PT.INALUM.
Dan, dijadikan Pantai sejarah sebagai pusat kegiatan Program Konservasi Mangrove oleh PT.INALUM juga tidak terlepas dari peran dan kejujuran Pak Azizi dalam mengelola dan pengembangan pantai Sejarah bersama penanaman bibit Mangrove sepanjang pantai pesisir Batu Bara. Karena pelaksanaan Program Konservasi Mangrove PT. INALUM akan atau dilaksanakan dengan kajian dan rencana tepat sasaran yang benar-benar bermanfaat dan berfungsi sebagai benteng atau pagar laut pencegah berbagai bencana dan kerusakan. Jadi, bukan asal-asalan dan apa adanya.
Justru pula program konservasi mngrove oleh PT.INALUM dilaksanakan bukan hanya sebagai kebijakan sendiri perusahaan tetapi pelaksanaannya berdasarkan berbagai regulasi yang diterbitkan pemerintah melalui Peraturan Pemerintah No.70 tahun 2029 tentang Konservasi Energi, serta Permen No.22 Tahun 2021 tentang Perlundungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, serta Keputusan Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH No.1375 Tahun 2025 tentan Proper. Jadi program yang dibuat dan dilaksanakan PT.INALUM tentang Konservasi Mangrove sudah resmi dikuatkan dengan peraturan pemrintah, sehingga dana yang disalurkan untuk berbagai kebutuhan dalam pengembangan Mangrove, benar-benar digunakan untuk pengembangan mangrove..
Pembangunan Menara Mangrove tahun 2023, yang didirikan pada ujung sambungan Jembatan Kayu yang dibangun tahun 2019 oleh Pemkab Batu Bara, juga sebagai salah satu bukti dari Program Konservasi Mangrove yang dipusatkan di Pantai Sejarah, Desa Perupuk, Kecamatan Lima Puluh Pesisir. Bukan hanya Menara Mangrove yang dibangun, tetapi penanaman 15.000 bibit Bakau tahun 2025 yang dilakukan bersama anggota masyarakatg pesisir juga sebagai bukti keseriusan PT.INALUM dalam pengembangan hutan bakau yang punya multi fungsi keberadaannya di sepanjang pesisir pantai laut.
Sekarang sudah terlihat tumbuh subur bibit bibit yang ditanam PT.INALUM sejak tahun 2020 -2023 yang tidak lagi sebagai bibit tapi sudah tumbuh menjulang tinggi ke angkasa dalam ukuran jarak satu meter X satu meter dengan jarak sekitar 500 meter menjurus pada bagian permukaan laut atau pantai. Kalau berkunjung ke Pantai Sejarah yang kini sudah dirubah nama menjadi Batu Bara Mangrove Park, akan terlihat hutan lebat di kiri kanan jembatan menjulang tinggi, yang tak satu pohon pun mati karena semua terawat rapi melalui rehabilitasi mangrove yang dipercayakan perawatan oleh pihak PT.INALUM kepada pihak yang dipercaya dan bertanggungjawab.
Makanya kalau naik ke Menara Mangrove terbuat papan kayu bertingkat dua dengan 10 anak tangga pada masing-masing di setiap lantai, pengunjung akan dapat menyaksikan indahnya panorama alam laut disertai kehijauan hutan Mangrove hasil penanaman melalui Program Konservasi PT.INALUM. Pada areal Menara Mangrove juga bisa disaksikan tempat pembibitan mangrove jenis bakau sehingga penting dikunjungi anak-anak dari siswa SD sampai SMA, dan malah mahasiswa tidak rugi jika melowongkan waktu mengunjugi tempat yang terhimpun dalam nama Mangrove School. Begitupun, lokasi ini bukan sekolah umum tetapi hanya bentuk pengenalan saja tentang cara pembibitan dan penanaman mengrove dari jenis bakau ataupun kayu api-api.
Pelaksanaan Program Konservasi Mangrove diharapkan terus berlanjut sampai nanti daerah pesisir pantai Batu Bara yang rawan bencana akibat hantaman gelombang laut yang mengakibatkan terjadi abrasi berupa pengikisan lapisan tanah pantai atau permukaan tanah akibat gesekan dari hantaman ombak besar air laut. Kalau menurut penjelasan Pak Azizi sebagai orang kepercayaan pihak INALUM dari Kelompok Tani Cinta Mangrove bahwa sampai saat ini tercatat sudah 5-6 kilometer kawasan pesisir pantai yang sudah ditanami mangrove jenis bakau, dan diharapkan terus berlanjut penanaman bakau pada seluruh kawasan pesisir pinggir laut.
Memang sangat tepat Pelaksanaan Program Konservasi yang diluncurkan PT.INALUM untuk kawasan pesisir karena nantinya pohon mangrove setelah besar sampai berusia puluhan bahkan di atas seratus tahun akan tumbuh besar dengan akar berlapis banyak, dan setiap akar akan membesar menancap ke bumi pada kawasan pinggir laut berair asin.
Namun ada kekhawatiran masyarakat yang bermukim di kawasan pesisir pantai Batu Bara seandainya pihak PT.INALUM menghentikan pelaksanaan Program Konservasi Mangrove dengan berbagai alasan atau penyebab. Karena keberadaan atau peran PT. INALUM dengan mengutip bagian penjelasan Benny Wiwoho selaku Direktur Strategic Support & Human Capital dan mengacu kepada bagian isi Background perusahaan peleburan alumium ini, menyebutkan bahwa PT.INALUM adalah perusahaan peleburan aluminium yang kini menjadi perusahaan BUMN tidak beroperasi sebagai perusahaan yang bergerak di sektor pertambangan yang umumnya menjalankan program rehabilitgasi dan pemulihan lingkungan sebagai upaya mengembalikan kondisi alam pasca kegiatan ekstrasi atau sumber daya. Jadi, PT.INALUM sama sekali tidak melakukan kegiatan penambangan secara langsung, dan Program Konservasi yang dilaksanakan perusahaan itu tidak dilarbelakangi oleh kebutuhan untuk memulihkan kerusakan lingkungan tetapi hanya dilarbelakangi oleh kesadaran perusahaan akan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem dan keanekaragaman hayati,
Walau ada ucapan atau penjelasan PT.INALUM yang sangat mengkuatirkan akan terhentinya program Konservasi Mangrove, namun lapisasan masyarakat pesisir pantai laut seperti terobati debgab bunyi isi Backgraound INALUM, yang sudah seperti memastikan tidak akan menghentikan Pelaksanaan Program Konservatif karena INALUM sendiri sudah masuk dalam perusahaan industri modern yang tidak lagi semata berbicara tentang angka produksi, ekspansi pasar atau pertumbuhan keuntungan. Namun di tengah ancaman krisis iklim dan menurunkan kualitas lingkungan hidup, perusahaan-perusahaan dunia, termasuk PT.INALUM tentunya, mulai menempatkan konservasi sebagai dari arah baru pembangunan.
Buktinya, bahwa pada sejumlah wilayah, termasuk di Sumatera Utara, upaya konservasi mulai digerakkan melalui penanaman pohon, rehabilitasi mangrove hingga perlindungan habitat flora dan fauna terlaksana merata.
Jadi, dengan itu, sudah dapat dipastikan bahwa PT.INALUM tidak akan menghentikanpelaksanaan Konservasi Mangrove dan lainnya di Wilayah Sumatera Utara meski ada kekuatiran masyarakat, terutama bagi mereka yang bermukin di kawasan pesisir tepi pantai yang rawan bencana karena hampir setiap saat dihantui dengan ketakutan dengan munculnya gelombong laut dahsyat yang menghantam daerah dan rumah tempat tinggal mereka, karena pinggir laut hampa dengan pohon Mangrove (bakau) sebagai benteng penyanggah atau pembendung hantaman gelombang laut yang muncul tiba-tiba tanpa terjadwal. Namun pihak INALUM sendiri sangat perlu memperjelas kepada kalangan masyarakat tentang hal-hal yang mengkhatirkan itu.
Dengan itu Program Konservasi Mangrove oleh PT.INALUM jelas sangat diharapkan lapisan masyarakat pesisir yang bermukim di daerah pinggir laut atau berdekatan dengan laut agar progrfam itu tetap dilanjutkan tanpa henti. Semoga!!
Penulis: DR(HC) Drs.Aidi Yursal, BA,SS.Ing
Judl Tulisan: Program Konservasi Mangrove Agar Tidak Berhenti
Wartawan: Anggota Biasa PWI Sumut dari Harian WASPADA Medan
Wartawan Utama Dewan Pers
Terbit: PagarNews.com, 29 Juni 2026






