Pantai Sejarah Tempat Pembibitan Mangrove Yang Nyaris Punah


BATU BARA:PagarNews.com – Mangrove dengan sedikitnya tiga turunan jenis bakau, api-api dan kayu laut yang nyaris punah bisa ditemukan tempat pembitannya di kawasan Pantai Sejarah, Desa Perupuk, Kecamatan Lima Puluh Pesisir, Kabupaten Bara.
Tempat pebibitan serta pohon mangrove jenis bakau dan kayu api-api yang dikunjungi Sabtu 7/6/2026 berada pada daerah kawasan laut yang sudah ditata bersih dan sejuk dengan tanaman bakau dan kayu apiapi tumbuh sekeliling dengan usia tanaman yang berbeda-beda.
Memasuki tempat pembibitan yang mesti melewati Jembatan Kayu sepanjang 200 meter dari tepi pantai Sejarah yang kini sudah berubah nama menjadi Pantai Batu Bara Mangrove Park mesti membayar uang retribusi terlebih dahulu sebesar Rp5000 setiap orang.
Yang dibayar itu, menurut salah seorang penjaga Pantai Sejarah, Yusnan, bukan untuk masuk tempat pembibitan mangrove tetapi untuk masuk melawati jembatan kayu yang sejak mulai diresmikan sudah ditetapkan sebagai bagian dari tempat rekreasi.
Tempat pembibitan bersama kawasan hutan mangrove jenis bakau dan api-api berbeda dengan tempat rekreasi Jembatan Kayu yang dibangun sepanjang 200 meter sampai mendekati permukaan laut yang bisa menyaksikan perahu nelayan yang mundar cari ikan dan juga rimbunnya tumbuhan bakau dan apiapi yang masih berusia muda sepanjang sesayup sayup mata memandang.
Setelah ditelusuri lintas Jembatan Kayu dengan tempat pembitan dan kawasan hutan mangrove, Pak Azizi, 59, Ketua Kelompok Tani Cinta Mangrove mengaku bahwa Jembatan Kayu dibangun Pemkab Batu Bara sekitar 2019 dan tahun 2023 dilanjutkan penambahan jembatan pada arah berbeda oleh PT.Inalum.
“Kalau yang namanya Menara Mangrov yang masuknya dari sebelah kanan dan belok kiri dari jembatan pertama atau jembatan induk, itu dibangun oleh PT.Inalum yang sudah resmi melakukan pengembangan Mangrove untuk jenis bakau dan api-api melalui Program Konservasi Bakau untuk daerah pesisir pantau laut Batu Bara.” kata Pak Azizi yang mengaku sudah hampir 24 tahun melibatkan dalam pengembangan Mangrove untuk jenis Bakau dan apiapi.
Ketika ditanyakan mengenai mangrove yang apa bedanya dengan kayu bakau, kayu apiapi dan kayu laut, Pak Azizi sedikit agak kecewa bercampur tawa, karena tidak tahu membedakan antara Mangrove dengan bakau dan lainnya.
Setelah memaklumi bahwa memang kebanyakan warga Indonesia yang bermukim di kota, termasuk kota Medan, Pak Azizi akhirnya mau juga buka suara denngan penuh sabar dan ramah yang sesekali nampaknya nada suara yang mengeras sebagai menunjukkan pria laut yang keras dan tegas serta berani.

“Mangrove itu adalah nama umum dari semua jenis tanaman atau pohon laut, katanya. dengan terus menguraikan Mangrove adalah sebutan dari semu nama kayu laut.
Menurut pak Azizi, Bakau, apiapi dan kayu laut adalah turunan dari Mangrove yang memang diakuinya tidak semua orang tahu dengan seluk beluk nama Mangrove dengan tiga turunannya itu.
Beralih kepada tempat pembibitan Mangrove untuk jenis bakau dan apiapi di kawasan area pantai yang untuk menyaksikan mesti melewai Jembatan Kayu dengan bayar Rp 5000 per orang, Pak Azizi tanpa merasa bosan menjelaskan, bahwa sebenarnya untuk menyaksikan atau mengunjungi tempat pembibitan mangrove tidak bayar alias gratis.
Namun, katanya, dikarenakan lokasinya berada dalam kawasan pantai yang mesti terlebih dahulu melewati jembatan kayu yang sudah dipatok Pemkab Batu sebagai bagian dari tempat rekreasi pada daerah objek wisata Batu Bara Mangrove Park, nama baru, sehingga setiap yang hendak masuk gerbang jembatan dianggap sebagai pengunjung wisata dan mesti bayar,
Pak Aziz menyebutkan bahwa tempat pembibitan yang berada di kawasan pantai yang sudah diramu menjadi kawasan hutan, adalah masuk dalam program konservasi mangrove PT.Inalum. Artinya, ungkap Pak Azizi, yang mendanai pembibitan mangrove sampai penanaman pada kawan pantai yang sudah dipatok menjadi hutan adalah PT.Inalum.
“Anda lihat saja dari menara Mangrove yang dibangun PT,Inalum dengan hutan bakau menghijau sampai tidak tahu lagi kita menghitung berapa kilometer kawasan pantai sudah menghijau seperti ini,” katanya sambil mengaku bahwa dia bersama para anggotanya yang tergabung dengan nama Kelompok Tani Cinta Mangrove juga ikut bergabung dengan Program Konservasi Mangrove PT.Inalum.

Ketika ditanya berapa jarak permukaan pantai yang dijadikan kawan hutan untuk ditanami bakau sebagai benteng dan pencegah gelombang laut dahsyat yang terkadang bisa menjadi bencana, Pak Azizi mengakui sekitar 500 meter jarak dari tepi pantai sampai ke arah permukaan laut.
Sementara dia dengan Kelompok Tani Cinta Mangrove mendapat izin pengelolaan hutan laut yang diambil dari bagian pinggir pantai seluas 456 hektar yang bisa ditanami mangrove.
“Bisa anda saksikan dan buktikan sendiri kawasan pantai yang sudah dikapling menjadi kawasan hutan Mangrove,” ujar Pak Aziz sambil menunjuk arah permukaan laut pantai Sejarah yang sudah ditanami mangrove jenis bakau dan ada yang masih dalam pembibitan. Dia menyebutkan jarak tanam antara pohon atau bibit dengan bibit lain adalah 1 X 1 meter.
Sedangkan untuk masa waktu yang diperlukan untuk pembibitan, kata Pak Azizi, dari sejak penanaman tangkai biji dengan pot sampai bisa dipindah dan dialihkan ke tempat penanaman adalah empat bulan. “Untuk pembibitan bukan secara stek atau cangkok tetapi diambil langsung dari buah manrove yang bentuk agak berbeda biiji pohon lain, tetapi bentuknya mirip seperti kayang panjang,”
Pria tua berusia lebih setengah abad mengaku dirinya sudah mengabdikan diri bersama para anggotanya selama 24 tahun terhitung sejak tahun 2026, atau jauh sebelum PT.Inalum masuk dengan pelaksanaan Program Konservasi Mangrove tahun 2023.

Sebagai orang yang peduli dengan kawasan pantai pesisir Bata Bara yang tadinya boleh disebut kosong melompong tanpa ada pohon pencanggah seperti bakau, kini sudah 5 sampai 7 kilometer kawasan pesisir Batu Bara ditanami mangrove jenis bakau, dan akan terus berlanjut karena sudah ikut langsung PT.Inalum dengan Program Konservasi Bakau.
“Sering-seringlah datang ke sini agar lebih banyak tahu tentang mangrove yang bagaikan barang asing , padahal sudah lama tumbuh di kawasan pinggir pantai sebagai pencegah gelombong laut yang munculnya tidak terjadwal, siang atau malam,” jelas Pak Azizi menutup pembicaraannya. (Aidi Yursal)
Penulis adalah : Aidi Yursal, DR(HC) Drs,SS,Ing
Wartawan Anggota Biasa PWI Sumut dari Harian WASADA Medan
dan Wartawan Utama Dewan Pers






